Langsung ke konten

Runtuhnya Temeria di The Witcher 3: Krisis Takhta, Pendudukan, dan Perlawanan

Vizima pernah menjadi pusat pemerintahan Temeria. Ketika The Witcher 3: Wild Hunt dimulai, Kaisar Emhyr var Emreis menerima tamu di istana yang dahulu ditempati rajanya. Di White Orchard, pasukan Nilfgaard juga telah mengambil alih kewenangan setempat. Dua tempat itu memperlihatkan perubahan yang sama. Wilayah Temeria masih ada, tetapi pemerintahannya tidak lagi menguasainya.

Kerajaan itu tidak jatuh dalam satu malam. Pembunuhan Raja Foltest membuka perebutan takhta yang sulit diselesaikan para bangsawan Temeria. Invasi Nilfgaard kemudian merampas kendali atas wilayahnya. Namun, orang-orang yang tetap menyebut Temeria tanah air mereka belum menyerah. Untuk memahami keruntuhannya, kita perlu membedakan hilangnya seorang raja, hilangnya kekuasaan atas negeri, dan bertahannya tuntutan untuk menentukan masa depan sendiri.

Seorang pengunjung menunjuk perisai berlambang lili Temeria di penginapan White Orchard.
Di White Orchard, lambang Temeria masih tergantung meski wilayahnya berada di bawah pendudukan Nilfgaard.

Temeria Sebelum Foltest Terbunuh

Temeria sudah lama memiliki peran dalam pertahanan kerajaan-kerajaan Utara. Dalam cuplikan novel Blood of Elves, sejumlah tokoh mengenang kerja sama Temeria, Redania, Aedirn, dan Kaedwen menghadapi Nilfgaard di Sodden. Percakapan yang sama juga menyinggung perselisihan dagang antara Foltest dan penguasa Redania setelah masa perang. Gambaran itu penting karena memperlihatkan kerajaan-kerajaan yang pernah bersatu menghadapi ancaman bersama tetap memiliki kepentingan yang tidak selalu sejalan.

Novel Sapkowski menyediakan latar sejarah, sedangkan krisis yang menyebabkan Temeria jatuh dalam artikel ini berlangsung dalam kelanjutan cerita versi game. Pada awal The Witcher 2: Assassins of Kings, Foltest mengepung benteng keluarga La Valette. Dua anaknya dari Louisa La Valette, Anaïs dan Boussy, berada di sana. Pengakuan Foltest atas mereka menimbulkan persoalan politik karena status kelahiran dan aturan pewarisan takhta memberi para bangsawan alasan untuk mempersoalkan hak keduanya.

Dalam percakapan dengan duta Nilfgaard, Shilard Fitz-Oesterlen, Foltest menegaskan bahwa Anaïs dan Boussy adalah anak-anaknya. Ia bahkan bersedia mengubah aturan pewarisan agar para baron tidak memakai mereka sebagai alat perebutan kuasa. Reaksinya memperlihatkan dua hal sekaligus. Foltest memahami bahayanya, tetapi jalan keluar yang ia bayangkan masih sangat bergantung pada kemampuannya sendiri sebagai raja untuk memaksa semua pihak menerima keputusan itu.

Ada pula kemungkinan lain yang berasal dari The Witcher pertama. Bergantung pada pilihan pemain, Adda, putri Foltest, dapat selamat dan menikah dengan Radovid dari Redania. Dalam dialog khusus jalur itu di The Witcher 2, Foltest mengatakan bahwa keluarga-keluarga tua Temeria tidak akan menerima seorang penguasa Redania di takhtanya. Itu adalah penilaian Foltest atas sikap para bangsawan, bukan keputusan suksesi yang telah disahkan. Pernikahan Adda membuat hubungan dengan Redania menjadi persoalan politik, sehingga keberadaannya tidak otomatis menyelesaikan sengketa pewarisan atau menghapus arti penting Anaïs dan Boussy.

Pembunuhan Raja dan Takhta yang Diperebutkan

Foltest berhasil mencapai anak-anaknya di benteng La Valette. Di tempat itulah Letho, yang menyamar sebagai rohaniwan, membunuhnya. Kematian sang raja mengubah sengketa yang sebelumnya masih bisa ia kendalikan menjadi perebutan kekuasaan terbuka. Kini pengakuan atas Anaïs dan Boussy harus dipertahankan oleh orang lain, sementara pihak-pihak yang menginginkan takhta memiliki kesempatan untuk bertindak.

Raja Foltest berdiri bersama Anaïs dan Boussy di benteng La Valette.
Foltest bersama Anaïs dan Boussy sebelum pembunuhannya membuka perebutan masa depan takhta Temeria.

Vernon Roche segera menyebut Count Maravel dan Baron Kimbolt sebagai tokoh yang bersaing mendapatkan pengaruh. Persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya darah Foltest pada anak-anak La Valette. Seorang pewaris juga memerlukan perlindungan, dukungan para bangsawan, dan aparat yang mampu menjalankan keputusan atas namanya. Tanpa itu, garis keturunan memberi dasar klaim, tetapi belum menghasilkan pemerintahan yang stabil.

Nilfgaard sudah melihat peluang dalam kelemahan tersebut bahkan sebelum tentaranya menduduki Temeria. Shilard menawarkan perlindungan kepada Louisa dan anak-anaknya ketika posisi keluarga La Valette terancam. Tawaran itu masuk akal dari sudut pandang seorang ibu yang membutuhkan keselamatan segera, sekaligus memberi kekaisaran pintu masuk ke dalam sengketa politik Temeria. Di akhir The Witcher 2, Letho mengaku bahwa Emhyr menugaskannya membunuh para penguasa Utara. Pengakuan itu memperlihatkan kepentingan Nilfgaard dalam kekacauan yang terjadi, tanpa menghapus ambisi para bangsawan Temeria sendiri.

Keadaan semakin genting ketika Boussy terbunuh dan Anaïs diculik. Jika seluruh petunjuk dalam Lilies and Vipers diikuti, penyelidikan menunjukkan bahwa Kimbolt merencanakan pembunuhan kedua anak Foltest. Rombongan mereka berubah rute sebelum orang-orangnya menjalankan rencana itu. Maravel kemudian mengatur penyergapan untuk menyerahkan anak-anak tersebut kepada pihak Nilfgaard. Boussy tewas dalam penyergapan, sedangkan Anaïs dibawa pergi. Dua bangsawan yang berada di sekitar pusat kekuasaan Temeria justru menempatkan masa depan dinasti di bawah ancaman.

Loc Muinne dan Batas Kekuasaan Natalis

Di Loc Muinne, John Natalis berusaha berbicara atas nama Temeria. Ia bukan hanya pemimpin militer. Setelah Foltest terbunuh, Natalis bertindak sebagai interrex, pemegang pemerintahan sementara hingga persoalan penerus takhta diselesaikan. Kedudukan itu memberi Temeria wakil yang sah, tetapi tidak memberinya cukup dukungan untuk memaksa para bangsawan mengikuti satu keputusan.

Temeria juga masih memiliki Council of Regents atau Dewan Wali. Natalis menjelaskan bahwa Kimbolt dan Maravel datang ke Loc Muinne sebagai anggota dewan, sementara lima anggota lainnya tinggal di Vizima. Menurutnya, sebagian besar anggota yang tinggal di sana justru berusaha melemahkan klaim Anaïs, kecuali Baron Orvall. Jadi, Temeria tidak tiba-tiba kehilangan seluruh perangkat politiknya setelah Foltest mati. Pemerintahan sementara tetap ada, tetapi orang-orang di dalamnya berselisih tentang siapa yang berhak meneruskan kerajaan.

Keterbatasan kekuasaan Natalis terlihat lebih tajam jika Geralt mengungkap keterlibatan kedua bangsawan dalam penyelidikan Lilies and Vipers. Natalis menilai ia tidak dapat menangkap Kimbolt dan Maravel sekaligus karena pasukan mereka termasuk yang terbesar di Loc Muinne. Dalam jalur ketika bukti tentang keduanya diserahkan, ia memilih meminta bantuan Kimbolt untuk menangkap Maravel dan berjanji memusnahkan bukti terhadap Kimbolt sesudah kembali ke Vizima. Keputusan itu menunjukkan jarak antara kewenangan untuk memerintah dan kemampuan menegakkan hukum terhadap bangsawan yang memiliki pengikut bersenjata.

Catatan Diary of a Fire Swallower dalam The Witcher 3 memberi sudut pandang orang yang hadir di Loc Muinne tanpa terlibat langsung dalam keputusan para penguasa. Penulisnya mengingat bahwa masa depan Temeria dibicarakan di sana dengan Natalis sebagai wakilnya. Ia juga mencatat banyaknya pasukan bersenjata di sekitar tempat perundingan. Kesaksiannya tidak menjelaskan seluruh keputusan politik, tetapi membantu memperlihatkan betapa rapuhnya sebuah pertemuan yang disebut membahas perdamaian.

Letak Temeria membuat perpecahan tersebut menjadi urusan kerajaan-kerajaan lain. Dalam perundingan, Radovid menyebutnya sebagai wilayah antara Nilfgaard dan bagian Utara yang belum jatuh. Ia menginginkan Temeria yang bersatu, tetapi persatuan yang diajukan Redania dapat menempatkan nasib negeri itu di bawah perlindungannya sendiri. Natalis menolak anggapan bahwa hanya raja lain yang sanggup menertibkan Temeria. Bagi kedua pihak, pertanyaan siapa yang menyelamatkan kerajaan sekaligus menjadi pertanyaan siapa yang berhak menguasainya.

Dalam salah satu jalur perundingan, Natalis menyatakan bahwa keluarga-keluarga bangsawan gagal menyepakati pengganti Foltest. Ia bahkan mengemukakan pembagian Temeria menurut wilayah kekuasaan para baron. Usulan itu bukan keputusan yang berlaku dalam semua jalur, tetapi memperlihatkan seberapa jauh pertanyaan suksesi dapat berkembang. Jika para bangsawan hanya bersedia mengakui kekuasaan masing-masing, nama Temeria mungkin bertahan sementara kemampuan kerajaan untuk bertindak sebagai satu negara melemah.

Anaïs membuka kemungkinan berbeda. Dalam jalur ketika ia diserahkan kepada Natalis, gadis itu menjadi lambang yang dapat menyatukan klaim keluarga kerajaan, sementara Natalis mendapat peran sebagai wali pemerintahan. Jalur lain memberi Radovid pengaruh atas nasib Anaïs dan Temeria. Ada pula hasil yang menonjolkan perebutan pengaruh antarbaron. Berbagai akhir The Witcher 2 tidak bisa dijumlahkan menjadi satu sejarah, tetapi semuanya berangkat dari masalah yang sama. Tidak ada jalan keluar sederhana yang membuat semua pihak di Temeria sepakat setelah Foltest mati.

Krisis tersebut penting bagi sejarah perang antara Nilfgaard dan kerajaan-kerajaan Utara, tetapi tidak sendirian menjelaskan kemenangan militer Nilfgaard. Perebutan suksesi adalah persoalan siapa yang berhak memerintah. Invasi berikutnya menyangkut siapa yang benar-benar memiliki tentara dan menguasai wilayah. Kedua persoalan itu saling berkaitan, tetapi perlu dibuktikan pada tahap cerita yang berbeda.

Saat Krisis Takhta Menjadi Pendudukan

Akhir The Witcher 2 memperlihatkan datangnya serangan Nilfgaard dari selatan. Roche kemudian bergabung dengan Tentara Temeria Kedua di bawah Natalis. Dalam percakapan di The Witcher 3, Roche mengenang bahwa mereka menahan laju Nilfgaard di garis antara Dol Blathanna dan Mount Carbon selama tiga hari sebelum pertahanannya ditembus. Sisa pasukan Temeria tercerai-berai, dan Roche membawa sebagian dari mereka ke barat sebelum melanjutkan perlawanan secara gerilya. Kekalahan di garis pertahanan itu menjembatani perebutan wewenang di Loc Muinne dengan hilangnya kemampuan Temeria untuk mempertahankan wilayahnya.

Saat kisah The Witcher 3 dimulai, akibatnya sudah terlihat di wilayah bekas kerajaan Foltest. White Orchard memiliki garnisun Nilfgaard, sementara Emhyr menggunakan istana kerajaan di Vizima. Pergantian penghuni istana itu lebih dari perubahan pemandangan. Tempat yang dahulu menandai kewenangan raja Temeria kini dipakai penguasa kekaisaran.

Kaisar Emhyr var Emreis berbicara dengan Geralt di istana Vizima.
Di istana Vizima, pusat kekuasaan Temeria kini ditempati Kaisar Emhyr var Emreis.

Tulisan dalam game berjudul What Shall Become of Temeria? menanggapi perubahan itu dengan nada seorang pendukung kerajaan yang kehilangan tanah air. Penulisnya mengingat perang-perang sebelumnya, menuduh para penguasa lain meninggalkan Temeria setelah Foltest mati, dan menyebut Vizima telah direbut. Nada marah tersebut penting sebagai bukti tentang cara seorang patriot memandang kekalahan. Namun, keluhannya bahwa Temeria tidak mempunyai sekutu lagi tidak perlu diterima sebagai laporan lengkap tentang seluruh hubungan politik kerajaan Utara.

Pendudukan tidak berarti setiap tempat diperintah dengan cara yang sama. Garnisun di White Orchard dapat memberi perintah dan menjatuhkan hukuman, tetapi tentaranya juga harus menghadapi ketegangan dengan penduduk setempat. Di Velen, Phillip Strenger, mantan tentara Temeria yang dijuluki Bloody Baron, memegang kuasa setempat di Crow's Perch. Keberadaannya menunjukkan bagaimana wilayah yang dilanda perang dapat dikuasai tokoh bersenjata tanpa memulihkan pemerintahan Temeria. Tidak tepat membayangkan satu administrasi yang sanggup menjaga seluruh bekas wilayah Temeria dengan kekuatan yang sama.

Perbedaan itu membantu menjelaskan apa sebenarnya yang hilang. Temeria tetap dapat ditemukan sebagai nama tempat, ingatan tentang raja, dan identitas penduduknya. Yang lenyap adalah kemampuan pemerintah merdeka untuk membuat keputusan dan menegakkannya di seluruh negeri. Kekalahan militer mengubah persoalan di istana menjadi persoalan sehari-hari bagi warga yang harus hidup di bawah kuasa baru.

Perlawanan yang Tidak Sama dengan Pemerintahan

Vernon Roche dan Ves menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Temeria tidak berakhir ketika istananya jatuh. Dalam The Witcher 3, mereka terhubung dengan kelompok partisan yang beroperasi dari persembunyian dekat Oxenfurt. Mereka masih mampu menyerang pasukan Nilfgaard dan berusaha melindungi warga yang pernah membantu mereka. Namun, kemampuan melakukan penyergapan bukan berarti mereka sudah memiliki kembali pemerintahan, wilayah yang aman, atau kekuatan untuk melindungi semua penduduk.

Vernon Roche, Geralt, dan seorang anggota kelompok Temeria berdiri di sekitar api unggun dalam persembunyian.
Persembunyian dekat Oxenfurt menjadi basis perlawanan Roche setelah Temeria kehilangan pemerintahan merdeka.

Quest An Eye for an Eye memperlihatkan batas tersebut dalam skala kecil. Warga Mulbrydale pernah membantu kelompok Roche. Ketika desa itu terancam oleh tentara Nilfgaard, Ves memilih bergerak untuk membela mereka meskipun Roche menilai tindakannya terlalu berisiko. Adegan ini tidak perlu dibaca sebagai gambaran seluruh perang. Cukup sebagai contoh hubungan dua arah antara partisan dan warga, sekaligus besarnya bahaya yang dihadapi ketika bantuan harus datang dari sekelompok kecil orang bersenjata.

Karena itulah perlawanan Temeria tidak dapat disederhanakan menjadi cerita bahwa kerajaan tersebut diam-diam masih utuh. Yang bertahan adalah orang-orang, jaringan dukungan, dan tuntutan politiknya. Ketiganya dapat menjaga kemungkinan masa depan Temeria tetap terbuka, tetapi tidak menghapus kenyataan pendudukan.

Harga untuk Menyelamatkan Temeria

Pada salah satu jalur politik menjelang akhir The Witcher 3, Roche dan Thaler telah berunding dengan pihak Emhyr sebelum Radovid dibunuh. Thaler bahkan mengatakan bahwa ia sedang kembali dari salah satu putaran perundingan ketika ditahan para troll di Velen. Dalam kesepakatan yang mereka bicarakan, kematian Radovid dan penghentian serangan gerilya menjadi imbalan bagi penarikan kendali langsung Nilfgaard dari Temeria. Negeri itu akan mengurus urusan dalam negerinya sendiri, tetapi berkedudukan sebagai negara vasal kekaisaran. Tawaran ini memberi jalan yang tidak dapat dicapai perang gerilya semata, dengan harga berupa kedaulatan yang terbatas.

Rencana tersebut memberi gambaran lebih konkret tentang apa yang ingin diselamatkan. Temeria dapat memiliki pengadilan, susunan pemerintahan, dan tentara sendiri menurut kesepakatan yang dibicarakan dalam quest itu. Namun, lembaga-lembaga tersebut akan bekerja di bawah hubungan ketergantungan dengan Nilfgaard. Dengan demikian, pemulihan kemampuan mengurus negeri tidak sama dengan kembali menjadi kerajaan merdeka seperti sebelum invasi. Perbedaan itulah yang membuat kata "selamat" terasa kurang sederhana daripada kelihatannya.

Dijkstra menolak arah tersebut. Baginya, kesepakatan itu terlalu mahal karena memberi jalan bagi kemenangan Nilfgaard atas wilayah Utara yang lebih luas. Perbedaan mereka memperlihatkan pertanyaan yang tidak terselesaikan oleh semangat kemerdekaan saja. Apakah kelangsungan Temeria dengan kedaulatan terbatas lebih berharga daripada melanjutkan perang untuk menahan ekspansi kekaisaran? Roche memandang peluang menyelamatkan negerinya. Dijkstra menilai akibatnya bagi seluruh kawasan.

Reason of State tidak terjadi dalam setiap jalur, dan hasilnya juga bergantung pada pilihan pemain. Jika rencana Roche dan Thaler gagal, masa depan yang mereka tawarkan tidak terwujud. Karena itu, status vasal bukan keadaan awal Temeria dalam game, apalagi akhir sejarahnya yang wajib terjadi. Ia adalah salah satu jawaban yang mungkin atas keruntuhan yang sudah terjadi sebelumnya.

Apa yang Sebenarnya Runtuh?

Kisah Temeria memperlihatkan bahwa sebuah negara dapat kehilangan lebih dari satu hal pada waktu yang berlainan. Foltest terbunuh ketika persoalan penerus belum selesai. Para bangsawan kemudian gagal membangun kesepakatan yang kokoh, dan Nilfgaard merebut pusat serta sebagian besar kemampuan negara untuk menguasai wilayahnya. Pendudukan itu nyata, sekalipun perlawanan terus berlangsung.

Yang tidak serta-merta lenyap adalah alasan orang-orang seperti Roche, Ves, dan para pendukungnya masih menyebut diri mereka orang Temeria. Bagi mereka, nama kerajaan itu menyimpan tuntutan untuk memerintah tanah sendiri. The Witcher 3 membiarkan tuntutan tersebut berhadapan dengan kenyataan yang pahit. Bahkan ketika peluang memulihkan Temeria muncul, bentuk negara yang mungkin kembali belum tentu memiliki kemerdekaan seperti sebelum perang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama