Northern Kingdoms pernah menghentikan Nilfgaard di Sodden dan mengalahkannya lagi dalam Second Northern War. Namun ketika The Witcher 3: Wild Hunt dimulai, Temeria sudah kehilangan pemerintahan yang utuh dan Velen dikenal sebagai No Man's Land. Redania menjadi kekuatan utama yang masih menahan ekspansi dari selatan. Mengapa dua kemenangan sebelumnya tidak cukup untuk menjaga Utara tetap kuat?
Kemenangan bersama menyelamatkan kerajaan-kerajaan itu pada saat perang, tetapi tidak menjamin mereka tetap mampu bertindak bersama setelahnya. Penguasa dapat dibunuh, suksesi diperebutkan, dan wilayah sekutu diambil alih oleh tetangganya. Dalam rangkaian Northern Wars, kemampuan mempertahankan Utara semakin terkumpul pada sedikit pusat kekuasaan. Kerajaan yang bertahan dari penaklukan Nilfgaard pun belum tentu bertahan sebagai negara merdeka.
Riwayat perang pertama dan kedua di sini bertumpu pada kisah Andrzej Sapkowski, sedangkan kelanjutannya mengikuti kontinuitas game CDPR. Keduanya tidak selalu selaras. Perbedaan penting, termasuk penanggalan, perlu dibedakan agar hubungan antarperistiwa tidak bergantung pada satu kronologi yang dipaksakan.
![]() |
| Skema ilustratif kawasan Northern Wars, bukan peta resmi. Bentuk wilayah, jarak, dan batasnya tidak presisi serta tidak mewakili keadaan pada satu tahun tertentu. |
Sebelum Northern Wars, Utara Bukan Satu Negara
Northern Kingdoms adalah sebutan bagi sejumlah kerajaan, bukan nama satu negara. Temeria, Redania, Kaedwen, Aedirn, serta Lyria dan Rivia mempunyai penguasa dan kepentingan sendiri. Mereka dapat bekerja sama menghadapi Nilfgaard, tetapi tetap bersaing memperebutkan wilayah dan pengaruh.
Susunan ini memberi Utara daya tahan sekaligus persoalan koordinasi. Jatuhnya satu kerajaan tidak otomatis menyerahkan kerajaan lain kepada musuh. Pasukan dari negeri yang masih bertahan dapat menghimpun perlawanan baru. Namun, tidak ada satu penguasa yang bisa memerintahkan semua kerajaan berperang bersama. Setiap koalisi bergantung pada kesediaan raja-raja yang belum tentu saling percaya.
Nilfgaard memiliki keunggulan yang berbeda. Jauh sebelum mencapai Cintra, Kekaisaran Nilfgaard sudah memperluas wilayahnya dan memasukkan negeri-negeri taklukan ke dalam berbagai bentuk pemerintahan di bawah kekuasaannya. Pemerintah pusat dapat mengerahkan sumber daya dari banyak wilayah. Skala itu sulit ditandingi satu kerajaan Utara sendirian.
Karena itu, skala kekaisaran tidak dengan sendirinya memastikan kemenangan. Koalisi memberi kerajaan-kerajaan Utara kesempatan menghimpun kekuatan yang tidak dimiliki satu negeri sendirian. Namun, menghimpun pasukan untuk menghadapi invasi dan mempertahankan kerja sama politik setelahnya merupakan dua pekerjaan berbeda.
First Northern War, dari Jatuhnya Cintra ke Pertahanan Sodden
Dalam kronologi novel, perang pertama mencapai Cintra pada 1263. Pasukan Nilfgaard menyeberangi Amell Mountains dan menghancurkan tentara Cintra di Marnadal. Raja Eist Tuirseach tewas. Pasukan kekaisaran kemudian merebut ibu kota, mengakhiri pemerintahan Calanthe dan menjatuhkan kerajaan yang sebelumnya berdiri merdeka.
Kemenangan itu memberi Nilfgaard pijakan lebih dekat ke Sungai Yaruga dan kerajaan-kerajaan di utaranya. Dari Cintra, ofensif berlanjut ke Sodden. Pasukan kekaisaran merebut bagian selatan wilayah tersebut sebelum bergerak lebih jauh ke utara.
Di Sodden Hill, laju mereka akhirnya terhenti. Gabungan pasukan Northern Kingdoms dan para mage memaksa Nilfgaard mundur ke selatan Yaruga, meski kemenangan itu menelan korban besar. Kerja sama antar-kerajaan itulah yang terbukti mampu menghentikan kekaisaran.
Tetapi pasukan yang mundur tidak berarti semua wilayah taklukan dibebaskan. Cintra tidak kembali menjadi kerajaan merdeka. Sodden menyelamatkan kerajaan-kerajaan lain dari serangan lebih jauh, sementara kehilangan Cintra tetap menjadi hasil perang pertama. Keberhasilan koalisi menghentikan invasi mempunyai batas: mempertahankan negeri yang masih bertahan tidak sama dengan memulihkan negeri yang sudah jatuh.
Second Northern War dan Runtuhnya Brotherhood
Beberapa tahun setelah Sodden, kedua pihak kembali menyiapkan perang. Emhyr var Emreis masih membawa ambisi ekspansi Nilfgaard, sedangkan para penguasa Utara mengetahui bahwa ancaman itu belum berakhir. Menjelang 1267, operasi rahasia dan rencana serangan sudah berjalan di balik hubungan yang penuh kecurigaan.
Dalam Blood of Elves, pertemuan para penguasa Utara di Hagge sudah membahas serangan dan kemungkinan merekayasa insiden perbatasan agar Nilfgaard tampak sebagai agresor. Mereka juga mempertimbangkan penggunaan pasukan pengungsi Cintra untuk merebut kembali negeri yang hilang. Nilfgaard menyiapkan operasinya sendiri melalui sekutu dan jaringan di Utara. Para penguasa sedang merencanakan cara mengubah hasil perang sebelumnya, bukan sekadar menunggu serangan berikutnya.
Krisis di Thanedd yang dikisahkan dalam Time of Contempt kemudian memecah Brotherhood of Sorcerers. Lembaga ini mengatur komunitas mage dan menempatkan banyak anggotanya sebagai penasihat di istana kerajaan. Di Thanedd, mage pendukung Northern Kingdoms berhadapan dengan mereka yang bekerja bersama Nilfgaard. Scoia'tael dan agen kekaisaran ikut terlibat, dan Brotherhood akhirnya runtuh sebagai institusi bersama.
Bagi kerajaan-kerajaan Utara, kehilangan itu terasa lebih besar karena para mage pernah membantu mempertahankan Sodden. Kini mereka terpecah, hubungan dengan para penguasa retak, dan jaringan penasihat yang menjangkau banyak istana ikut terguncang. Institusi yang pernah menopang pertahanan bersama tidak lagi dapat diandalkan dalam bentuk yang sama ketika invasi berikutnya datang.
Perang kemudian meluas ke berbagai front. Lyria dan Rivia terkena ofensif, Aedirn mengalami kehancuran besar, dan Temeria menjadi sasaran utama. Di saat yang sama, hubungan Kaedwen dengan tetangganya tetap dibayangi ambisi teritorial. Ancaman Nilfgaard belum cukup untuk membuat para penguasa Utara mengesampingkan sengketa mereka.
Meski demikian, perlawanan bersama kembali terbentuk. Kemenangan pasukan Utara dalam Pertempuran Brenna mematahkan ofensif Menno Coehoorn dan membuka jalan bagi kontraofensif. Operasi di front lain tetap harus diteruskan sebelum perang berakhir melalui Peace of Cintra pada 2 April 1268.
Brenna membatasi kesimpulan yang dapat ditarik dari Thanedd. Runtuhnya Brotherhood tidak otomatis membuat Utara kalah, sebab pasukan gabungannya masih mampu mengalahkan kekuatan besar Nilfgaard. Yang rusak adalah salah satu penopang kerja sama. Kemampuan untuk membangun perlawanan belum hilang, tetapi harus dibentuk kembali di tengah persaingan dan kerusakan yang ditinggalkan perang.
Apa yang Diselesaikan Peace of Cintra?
Dalam The Lady of the Lake, Peace of Cintra mengakhiri Second Northern War dan mengatur kembali sejumlah persoalan wilayah. Nilfgaard gagal menaklukkan Utara dan harus mundur dari banyak daerah yang direbutnya. Bagi Northern Kingdoms, ini kemenangan nyata yang mempertahankan kemerdekaan mereka.
Namun perjanjian damai tidak dapat memperbaiki semua kerusakan politik selama perang. Brotherhood of Sorcerers tetap runtuh, dan Raja Vizimir II dari Redania sudah dibunuh pada masa krisis Thanedd. Kerajaan-kerajaan yang dilanda pertempuran harus menghadapi kerusakan wilayahnya sendiri. Persoalan Scoia'tael dan ketegangan antara manusia dan nonhuman juga terus berlanjut.
Koalisi perang pun tidak berubah menjadi pemerintahan bersama. Setiap kerajaan tetap mempunyai dinasti, perbatasan, dan klaim wilayah masing-masing. Kemenangan memberi mereka alasan untuk menghentikan perang dengan Nilfgaard, tanpa menghapus alasan untuk bersaing satu sama lain. Tidak ada otoritas bersama yang dapat memaksa semua raja menyelesaikan sengketa atau menjaga takhta tetangganya ketika krisis datang.
Dalam kelanjutan cerita versi CDPR, Nilfgaard memanfaatkan kerentanan tersebut sebelum mengirim pasukan lagi. Sasarannya mencakup penguasa yang dahulu memimpin kerajaan-kerajaan Utara mempertahankan kemerdekaan mereka.
Pembunuhan Raja Membuka Jalan bagi Invasi Berikutnya
The Witcher 2: Assassins of Kings memperlihatkan bagaimana kehilangan seorang raja dapat mengguncang seluruh kerajaan. Menjelang dan selama peristiwa game tersebut, pembunuhan para penguasa membuat beberapa kerajaan Utara menghadapi krisis suksesi saat ancaman Nilfgaard kembali mendekat.
Demavend III dari Aedirn dibunuh oleh kelompok witcher Viper yang dikenal sebagai Kingslayers. Foltest dari Temeria menyusul setelah pertempuran di La Valette Castle. Dalam rentang pendek, dua kerajaan besar kehilangan pemimpin. Siapa yang berhak menggantikan mereka dan siapa yang dapat menguasai pemerintahan menjadi persoalan mendesak.
![]() |
| Demavend III dan Letho dalam sinematik pembuka The Witcher 2: Assassins of Kings. Pembunuhan raja mengguncang Aedirn sebelum invasi berikutnya. |
Letho kemudian menjelaskan kepada Geralt bahwa operasi Kingslayers melayani kepentingan Emhyr. Menurut pengakuannya, misinya adalah membunuh sebanyak mungkin penguasa, melemparkan kesalahan kepada para sorceress, dan menimbulkan kekacauan sebelum invasi. Ia memanfaatkan ambisi Lodge of Sorceresses, tetapi tidak bekerja di bawah kendali lembaga itu.
Perbedaannya tampak pada dua pembunuhan tersebut. Síle de Tansarville memang meminta Letho membunuh Demavend, sehingga kepentingannya bersinggungan dengan operasi kekaisaran. Pembunuhan Foltest kemudian direncanakan Letho bersama Iorveth di luar kendali Lodge. Keterlibatan Síle dalam pembunuhan pertama tidak berarti Lodge memerintahkan seluruh rangkaian pembunuhan raja.
Kematian seorang raja sendiri belum memindahkan perbatasan kepada Nilfgaard. Keuntungan operasi itu terletak pada krisis yang menyusul: siapa berhak memerintah, pasukan harus mematuhi siapa, dan apakah tetangga akan membantu atau justru mengambil wilayah. Kekaisaran memperbesar konflik yang sudah tersedia di Utara agar kerajaan-kerajaannya menghadapi invasi sambil memperebutkan kekuasaan di antara mereka sendiri.
Pertemuan di Loc Muinne menjadi upaya menyusun kembali tatanan politik setelah pembunuhan-pembunuhan tersebut. Masa depan Temeria dan kemungkinan membangun kembali lembaga mage termasuk persoalan yang dibahas. Namun hasilnya dalam The Witcher 2 bergantung pada pilihan pemain. Nasib kerajaan, para mage, dan sejumlah tokoh dapat berbeda menurut jalur yang dimainkan.
Karena itu, satu hasil Loc Muinne tidak bisa dijadikan sejarah tunggal yang berlaku bagi semua jalur menuju The Witcher 3. Pijakan bersamanya lebih terbatas. Pembunuhan raja sudah mengguncang keseimbangan kekuasaan, keadaan politik di Utara masih tidak stabil, dan Nilfgaard telah menyiapkan perang berikutnya.
Third Northern War dan Menguatnya Redania
Ketika Nilfgaard kembali bergerak ke utara, Aedirn dan Temeria sudah kehilangan penguasa yang dahulu memimpin mereka. Lyria dan Rivia kembali berada di jalur ekspansi kekaisaran. Kerajaan-kerajaan yang pernah menjadi bagian dari koalisi kini menghadapi invasi dengan kemampuan yang semakin tidak merata.
Nilfgaard bergerak cepat, tetapi kembali menghadapi perlawanan. Radovid V memperkuat Redania dengan menyerang dan mengambil alih Kaedwen, lalu menambahkan wilayah serta kekuatan negeri itu kepada kekuasaannya sendiri. Dalam kontinuitas game, langkah ini menjadikan Redania pusat perlawanan di Utara yang jauh lebih dominan.
![]() |
| Kamp Army Group Center di Velen dalam The Witcher 3. Tenda, pagar, dan menara jaga memperlihatkan kehadiran militer yang menetap. |
Keberhasilan Radovid sekaligus mengubah arti pertahanan bersama. Pada masa Sodden dan Brenna, sejumlah kerajaan dapat mengerahkan pasukan sebagai sekutu yang berdiri sendiri. Kaedwen kini menyumbang kekuatan karena telah diserap, sementara Temeria dan Aedirn kehilangan kedudukan mereka sebelumnya. Redania menjadi lebih mampu melawan Nilfgaard dengan mempersempit kemerdekaan tetangganya. Bertahannya Utara dan bertahannya setiap kerajaan Utara tidak lagi menunjuk hasil yang sama.
Mengapa Tahun Awal Perang Ketiga Tidak Dipastikan?
Penanggalan perang ketiga tidak sepenuhnya konsisten dalam sumber game. Buku dalam versi rilis The Witcher 3, The Nilfgaard Wars, or a History of Our Time, menyebut musim semi 1270 sebagai awal perang baru. Sementara itu, kronologi The Witcher 2 menempatkan Loc Muinne pada 1271. Epilognya memperlihatkan invasi Nilfgaard dimulai setelah pertemuan tersebut.
Dua penanda itu tidak dapat diselaraskan tanpa asumsi tambahan. Urutan yang dapat diikuti adalah krisis politik The Witcher 2, invasi dalam epilognya, lalu perang yang masih berlangsung dalam The Witcher 3. Satu tahun awal tidak dapat dipastikan dari sumber-sumber yang saling bertentangan itu. Ketidakpastian tanggal tidak menghapus kaitan antara operasi Kingslayers dan persiapan invasi yang dijelaskan Letho.
Velen dan Pecahnya Kekuasaan Temeria
Di Velen, akibat perang terlihat dari siapa yang masih bisa menjalankan kekuasaan. Catatan quest The Nilfgaardian Connection menggambarkan keadaan awal wilayah itu sebagai No Man's Land karena Nilfgaard belum mengklaimnya, Temeria berada dalam kekacauan, dan pasukan Redania telah mundur ke utara. Keterangan tersebut menggambarkan runtuhnya tatanan pemerintahan, bukan ketiadaan semua bentuk kekuasaan.
![]() |
| Mayat-mayat yang digantung di Hanged Man's Tree memperlihatkan kekerasan di Velen yang dilanda perang. |
Catatan yang sama menyebut Bloody Baron sebagai penguasa Velen yang mengangkat dirinya sendiri. Ia mengisi sebagian kekosongan yang ditinggalkan Temeria, tanpa berarti mengendalikan setiap desa. Tentara, desertir, bandit, dan kelompok bersenjata lain bergerak di wilayah yang dipenuhi pengungsi. Penduduk menghadapi kekuasaan yang terpecah, dengan perlindungan yang tidak pasti.
Kehadiran militer Nilfgaard pun tidak berarti seluruh desa langsung berada di bawah pemerintahan yang tertata. Pasukan dapat memasuki atau menduduki wilayah tanpa mampu mengatur kehidupan sehari-hari di semua bagiannya. Perbedaan ini membantu menjelaskan mengapa kekuatan kekaisaran dan kekacauan lokal dapat hadir bersamaan di Velen.
Temeria masih hidup dalam identitas masyarakat dan gerakan perlawanannya. Namun, kerajaan itu tidak lagi mampu menjalankan kedaulatan penuh atas wilayahnya. Nama dan lambang kerajaan dapat dipertahankan ketika pemerintahannya sudah terpecah. Jarak antara keduanya kelak menjelaskan mengapa pemulihan Temeria sebagai vasal masih berarti bagi para patriotnya.
Mengapa Novigrad Menjadi Rebutan?
Di sekitar Pontar, Redania masih mampu menahan Nilfgaard. Perlawanan ini membuat Novigrad semakin penting bagi kedua pihak. Kota yang tetap berstatus Free City tersebut mempunyai pelabuhan, jaringan perdagangan, dan kekayaan yang dapat membantu membiayai perang.
Dalam laporannya kepada Emhyr, duta Nilfgaard Henry var Attre menilai bahwa arah perang selanjutnya dapat ditentukan di dalam Novigrad. Ia juga memperkirakan Radovid terutama mengincar kekayaan Church of the Eternal Fire. Ini adalah penilaian sang duta tentang kepentingan strategis kota, bukan kepastian bahwa penguasaan Novigrad otomatis memenangkan perang.
![]() |
| Pelabuhan dan kota Novigrad. Perdagangan, kekayaan, dan posisinya di kawasan Pontar membuat kota ini penting bagi kedua pihak yang berperang. |
Laporan itu memperlihatkan kebutuhan yang tidak selesai dengan kemenangan di medan perang. Pasukan harus terus dibiayai, dan jalur perdagangan serta pelabuhan dapat menopang usaha tersebut. Ketika banyak kerajaan Utara melemah, kekayaan Novigrad memberi kota itu arti politik yang jauh melampaui statusnya sebagai kota bebas.
Tiga Kemungkinan Akhir Third Northern War
Hasil perang dalam The Witcher 3 bergantung pada pilihan pemain. Rangkaian quest politik yang berpuncak pada Reason of State memberi Geralt kesempatan memengaruhi siapa yang bertahan untuk memimpin. Ketiga hasil berikut adalah jalur alternatif. Perbedaannya perlu dinilai dari pemenang perang, kedudukan kerajaan-kerajaan Utara, dan nasib penduduk di bawah pemerintahan yang menang.
Radovid Bertahan dan Memenangkan Perang
Jika Radovid tidak dibunuh, ia mengalahkan Nilfgaard dan membawa seluruh Utara, termasuk Novigrad, ke bawah kekuasaan Redania. Di Nilfgaard, rangkaian kekalahan membuat Emhyr rentan, dan oposisi internal akhirnya membunuhnya.
Kemenangan Radovid membebaskan wilayah dari penaklukan kekaisaran sekaligus memperluas perburuan terhadap mage. Epilog memperlihatkan penindasan menjangkau Temeria dan Aedirn, dengan nonhuman, herbalist, pellar, serta healer ikut menjadi korban. Keberhasilan militernya nyata, tetapi keselamatan penduduk tidak mengikuti kemenangan itu. Kebebasan dari Nilfgaard bukan jaminan kebebasan di bawah Redania.
Dijkstra Mengambil Alih Redania
Jalur ini terbuka jika Radovid dibunuh dan Geralt membiarkan Dijkstra menghabisi Vernon Roche, Ves, serta Thaler. Dijkstra kemudian mengambil alih Redania, meneruskan perang, dan mengalahkan Nilfgaard. Seperti dalam jalur kemenangan Radovid, Emhyr dibunuh oleh oposisi internal akibat kekalahannya.
Epilog menggambarkan Dijkstra memusatkan kekuasaan melalui program permukiman dan industrialisasi, dengan persiapan perang sebagai cara menjaga perdamaian. Kebijakannya dapat dipaksakan bertentangan dengan kehendak rakyat. Kerajaan-kerajaan lama tidak dipulihkan sebagai negara merdeka yang setara. Jalur ini menghentikan invasi tanpa mempertahankan rezim Radovid, tetapi tercapai melalui kematian para patriot Temeria dan pemerintahan baru yang otoriter.
Nilfgaard Menang dan Temeria Menjadi Vasal
Jalur ketiga terjadi jika Radovid dibunuh dan Geralt membela Roche, Ves, serta Thaler ketika Dijkstra hendak membunuh mereka. Dijkstra tewas, sehingga kesepakatan para patriot Temeria dengan Nilfgaard dapat berjalan. Kekaisaran memenangkan perang, dan bendera hitam berkibar di Redania serta Novigrad.
Temeria memperoleh pemerintahan sendiri sebagai negara vasal Nilfgaard. Epilog juga menghubungkan pemulihan itu dengan tekanan gerilya: Emhyr bersedia mengembalikan kerajaan, para pejuangnya meletakkan senjata, lalu pasukan kekaisaran dapat dialihkan ke front lain. Kesepakatan tersebut memberi kedua pihak keuntungan yang berbeda. Para patriot mendapatkan kembali pemerintahan Temeria, sedangkan Emhyr mengurangi beban perlawanan tanpa melepaskan kedudukan sebagai penguasa tertinggi.
Kedaulatan Temeria tetap terbatas. Bagi Roche dan Thaler, menerima hubungan vasal menyelamatkan negeri yang tidak mampu mereka pulihkan dengan kekuatan sendiri. Bagi Dijkstra, kesepakatan itu mengorbankan kesempatan mengalahkan Nilfgaard dan menguasai Utara. Benturan tersebut menjelaskan mengapa kesediaan mereka bekerja sama membunuh Radovid tidak bertahan setelah tujuan bersama itu tercapai.
Emhyr memperkuat kedudukannya melalui pembersihan terhadap lawan-lawan politik di Nilfgaard. Jika syarat lain untuk ending Ciri sebagai Empress juga terpenuhi, Ciri dapat menjadi pewaris dan kelak naik takhta setelah Emhyr turun. Kemenangan Nilfgaard saja tidak otomatis menetapkan masa depan Ciri.
![]() |
| Bagan editorial tiga akhir perang yang saling alternatif. Syarat tiap jalur dijelaskan dalam teks. Lambang dekoratif tidak merepresentasikan heraldik resmi para penguasa. |
Semakin Sedikit Kerajaan yang Menentukan Nasib Utara
Sodden dan Brenna berhasil menyelamatkan kemerdekaan banyak kerajaan. Kemunduran yang menyusul tidak membuat kemenangan itu sia-sia atau membuktikan bahwa Utara ditakdirkan kalah. Yang tidak bertahan adalah kemampuan para pemenang menjaga kerja sama saat penguasa dibunuh, lembaga bersama runtuh, dan tetangga bersaing mengambil wilayah. Nilfgaard memanfaatkan keadaan tersebut, sedangkan Redania membangun pertahanan yang lebih kuat melalui pemusatan kekuasaan.
Karena itu, tiga akhir perang tidak dapat diperingkat hanya dengan bertanya apakah Nilfgaard kalah. Kemenangan Radovid mempertahankan penindasan, kemenangan Dijkstra menyatukan Utara dengan paksaan, dan kemenangan Emhyr memulihkan pemerintahan Temeria dengan membatasi kemerdekaannya. Pilihan pemain mengubah pemenang, penguasa, serta nasib orang-orang yang hidup di bawahnya. Tidak satu pun jalur memulihkan sepenuhnya susunan kerajaan merdeka sebelum Northern Wars.
Velen dan Novigrad memperlihatkan perubahan itu dari dua arah. Di satu wilayah, tatanan kerajaan pecah dan perlindungan penduduk menjadi tidak pasti. Di wilayah lain, kekayaan kota bebas membuatnya menjadi sasaran pihak yang membutuhkan biaya perang. Dunia politik The Witcher 3 terbentuk ketika semakin sedikit kerajaan mampu mempertahankan pasukan, pemerintahan, dan hak menentukan nasibnya sekaligus.






