Langsung ke konten

Aen Seidhe di The Witcher 3: Tanah, Warisan, dan Masa Depan Elf

Dalam Blood and Wine, ekspansi The Witcher 3: Wild Hunt, sebuah dokumen bernama Scroll from Crevan Carn menggambarkan tata pemakaman Aen Seidhe. Tetua yang disebut Eldest menutup pidato tentang perbuatan almarhum sebelum jenazah ditempatkan pada tumpukan kayu alder. Ia menyalakan tumpukan itu, disusul lima anggota keluarga yang masing-masing melakukan hal serupa. Setelah pembakaran, tetua mengumpulkan fragmen tulang ke dalam guci yang sudah berisi abu dari tumpukan kayu tersebut. Wadah itu kemudian ditutup dan ditempatkan di ruang pemakaman keluarga.

Petunjuk itu menyimpan gambaran kehidupan sosial yang mudah terlewat ketika elf hanya dibicarakan melalui reruntuhan dan peperangan. Ada orang yang mengetahui riwayat almarhum, keluarga yang mengambil bagian, serta tempat untuk memelihara hubungan dengan mereka yang sudah meninggal. Dokumen tersebut tidak membuktikan bahwa semua elf menjalankan adat yang sama atau bahwa upacara itu masih dilakukan pada masa game. Namun, ia memperlihatkan suatu cara menghubungkan ingatan seseorang dengan komunitasnya.

Halaman Scroll from Crevan Carn menampilkan uraian upacara pemakaman Aen Seidhe.
Scroll from Crevan Carn dalam Blood and Wine menguraikan pemakaman Aen Seidhe, termasuk peran tetua dan keluarga serta penyimpanan tulang bersama abu di ruang pemakaman keluarga.

Aen Seidhe menghadapi persoalan yang lebih panjang daripada keselamatan satu orang. Mereka dapat memperoleh pekerjaan, memelihara cerita, bahkan memiliki kembali pemerintahan di tanah air, sementara kemampuan meneruskan kehidupan bersama tetap menghadapi hambatan. Tanah yang hilang membantu menjelaskan keadaan itu, tetapi hidup di antara manusia, mempertahankan komunitas terpisah, dan mengambil senjata memberi peluang serta akibat yang berbeda. Masa depan mereka bergantung pada siapa yang dapat hidup, apa yang dapat diwariskan, dan siapa yang akan melanjutkannya.

Novel Sapkowski dan game CDPR merupakan dua kontinuitas yang berhubungan. Game menempatkan ceritanya sesudah saga novel dan melanjutkan dunia tersebut menurut versi CDPR, bukan sebagai kelanjutan kanon novel Sapkowski dalam arti ketat. Dalam penjelasan tim CDPR, cerita game ditulis oleh tim mereka sendiri tanpa keterlibatan Sapkowski dalam proses penulisannya. Novel dipakai di sini untuk membaca latar masyarakat elf, sedangkan keadaan dalam game tetap dibedakan menurut karya, masa, dan penuturnya. Detail politik yang berbeda tidak dipaksakan menjadi satu riwayat yang sepenuhnya konsisten.

Aen Seidhe sebagai Masyarakat

Nama Aen Seidhe merujuk pada elf yang menghuni Continent dan biasanya diterjemahkan sebagai "People of the Hills" atau kaum bukit. Mereka berbeda dari Aen Elle, kelompok elf dari dunia lain yang mencakup para pemimpin Wild Hunt. Perbedaan ini diperlukan karena kehidupan elf di Novigrad atau Dol Blathanna tidak dapat dijelaskan melalui kekuasaan Eredin dan dunianya.

Scoia’tael juga bukan nama lain bagi seluruh Aen Seidhe. Organisasi perlawanan itu merupakan salah satu tempat elf menyalurkan tuntutan politiknya. Di luar pasukan bersenjata, game memperlihatkan pengrajin, orang yang membantu penduduk di sekitar hutan, serta pelaku pertunjukan. Mereka berbagi identitas ras, tetapi tidak menjalankan satu kehidupan atau mengikuti satu pemimpin.

Elder Speech memberi Aen Seidhe bahasa yang menghubungkan mereka dengan warisan elf. Namun, berbagi bahasa dan asal-usul belum menjadikan mereka satu komunitas politik. Tuntutan seorang pejuang, kebutuhan sebuah keluarga, dan kehidupan seorang pengrajin bisa beririsan tanpa selalu mengarah pada keputusan yang sama.

Keluarga, cerita, pekerjaan, dan pilihan politik memberi isi pada kehidupan bersama itu. Seseorang yang memperoleh penghasilan belum tentu memiliki kuasa atas tempat tinggalnya. Orang yang masih mengingat cerita lama belum tentu bisa melindungi tempat asal cerita tersebut. Hubungan antarkebutuhan ini menjelaskan mengapa keberhasilan seorang elf dan kelanjutan masyarakatnya perlu dibaca dengan ukuran yang berbeda.

Warisan yang Bertahan di Tanah yang Berubah

Kehilangan wilayah juga hadir sebagai proses yang terus bergerak dalam novel. Dalam Crossroads of Ravens, novel tentang Geralt muda, epigraf pembukanya mengutip Regni Caedvenie Nova Descriptio karya Baldwin Adovardo. Deskripsi itu menggambarkan wilayah perbatasan Kaedwen maju melalui penaklukan dan pengambilan tanah dari elf, sehingga batas kerajaan terus bergeser. Perebutan tempat hidup dengan demikian menjadi bagian dari cara sebuah kerajaan memperluas wilayahnya, bukan hanya cerita tentang kehilangan pada masa purba.

Buku Monumenta Elforum dalam The Witcher 3 menghubungkan sejumlah kota manusia dengan permukiman elf yang lebih tua. Istredd mengarahkan perhatian pada peninggalan yang bahkan dapat ditemukan di bawah kota. Dalam gambaran buku itu, kehidupan manusia berlangsung di atas tempat yang memiliki sejarah Aen Seidhe.

Keberadaan peninggalan tersebut belum menjelaskan hubungan elf yang hidup sekarang dengan tempat itu. Bangunan dapat bertahan karena bahan dan letaknya, sementara cerita tentang orang yang membangunnya membutuhkan seseorang yang masih mengenal dan meneruskannya. Sebuah kota dapat menyimpan karya Aen Seidhe tanpa memberi masyarakat pembuatnya kendali atas kehidupan yang berlangsung di sana.

The Witcher 2: Assassins of Kings memberi contoh melalui kisah Eldan dan Cymoril dalam The Rose of Remembrance. Hearvihen, seorang elf Scoia’tael, mengecam versi manusia yang menurutnya telah mengubah cerita kedua kekasih itu. Ia mempertahankan ingatan Aen Seidhe tentang pengabdian dan pengorbanan mereka. Suara kekasih yang konon tersimpan dalam batu tetap ia sampaikan sebagai legenda.

Hearvihen mempertahankan arti yang ia kenal dari cerita tersebut. Bagi dirinya, tempat yang masih ada telah memperoleh kisah yang berbeda ketika diceritakan manusia. Perselisihan ini menyentuh siapa yang berhak menjelaskan masa lalu, sementara kebenaran setiap rincian versi Hearvihen tetap tidak dapat ditetapkan dari keluhannya saja.

Patung Eldan dan Cymoril berpelukan di taman berhutan dekat Flotsam, dikelilingi mawar merah.
Patung Eldan dan Cymoril di taman dekat Flotsam dalam The Witcher 2. Kisah pasangan tersebut menjadi pokok perselisihan Hearvihen tentang ingatan elf dan versi manusia.

Menjaga arti sebuah tempat berbeda dari memiliki kuasa untuk melindunginya. Ingatan memberi alasan untuk tetap terikat pada tanah, termasuk ketika kendali atas penggunaannya sudah melemah.

Penghormatan kepada sosok sakral memberi hubungan lain dengan dunia yang mereka huni. Dalam cerpen The Edge of the World di The Last Wish, para elf berlutut di hadapan Dana Méadbh dengan penghormatan yang mendalam. Adegan itu menunjukkan kedudukan sosok tersebut bagi kelompok Filavandrel. Penghormatan yang kuat ini belum menjelaskan adanya satu sistem teologi atau agama terorganisasi yang dianut seluruh Aen Seidhe.

Ritus, cerita, dan penghormatan itu memberi alasan untuk tidak menyamakan hilangnya kekuasaan dengan lenyapnya kebudayaan. Sebagian warisan masih dikenali dan dibela. Persoalan berikutnya adalah apakah orang yang memeliharanya juga memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Mencari Penghidupan di Antara Manusia

Dalam The Witcher, kebutuhan itu tampak melalui Daily Bread. Toruviel meminta bantuan mendapatkan makanan untuk kelompok elf di dekat Murky Waters. Jurnal quest menilai bahwa roti yang dibawa kepada mereka tidak cukup untuk menyelesaikan kelaparan. Bantuan tersebut berguna bagi orang yang menerimanya, tetapi belum membentuk penghidupan yang dapat mereka andalkan.

Kasus itu membedakan pertolongan sesaat dari kemampuan mempertahankan komunitas. Tempat berlindung masih membutuhkan pasokan dan hubungan dengan orang di luar. Menjaga jarak dari masyarakat manusia tidak menghilangkan kebutuhan untuk memperoleh makanan. Ketika hubungan tersebut sulit dijalankan, mempertahankan kelompok yang terpisah dapat menjadi beban sehari-hari.

Kelompok Toruviel kemudian menghadapi keadaan lain dalam Free Elves. Ketika White Rayla dan pasukannya memburu para elf, Toruviel menyandera penduduk Murky Waters dan menuntut jalan keluar bagi kelompoknya. Perkembangan konflik bergantung pada keberpihakan Geralt, sehingga satu hasilnya tidak berlaku untuk semua jalur game. Kebutuhan pangan dan keputusan bersenjata muncul pada komunitas yang sama, meski game tidak menetapkan kelaparan sebagai penyebab penyanderaan. Penghidupan dan perlawanan bertemu dalam kehidupan orang-orang yang sama, dengan tanggung jawab atas tindakan mereka tetap perlu dinilai.

Dalam cerpen The Edge of the World, Torque menjelaskan kebutuhan kelompok Filavandrel yang tinggal di pegunungan, termasuk pangan dan pengetahuan bertani. Keadaan kelompok ini tidak membuktikan bahwa semua elf tidak mengenal pertanian. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana kehilangan tempat hidup dapat disertai kebutuhan menyesuaikan cara memperoleh makanan.

Cedric di Lobinden dalam The Witcher 2 menjalani hubungan praktis dengan manusia. Ia memasang perangkap untuk menjauhkan nekker dan membantu penduduk memahami bahaya hutan. Ia juga mengakui telah membunuh manusia ketika membantu Triss. Kerja sama dan kekerasan hadir dalam pilihan orang yang sama. Menyebutnya sudah berasimilasi hanya karena membantu manusia akan mengabaikan persoalan bahasa dan budaya yang tidak dijawab oleh tindakan tersebut.

Dalam The Witcher 3, Elihal memperoleh penghidupan sebagai penjahit di Novigrad. Entri karakternya juga menyebut kegemarannya mengenakan pakaian dan meniru pembawaan orang dengan ras, jenis kelamin, serta kedudukan sosial berbeda. Kehidupannya memberi ruang bagi keterampilan dan pilihan pribadi yang melampaui respons terhadap penindasan.

Usaha Elihal menjadi salah satu cara seorang elf mengambil bagian dalam ekonomi Novigrad. Keterampilan dan pilihan pribadinya memberi isi pada kehidupan tersebut. Namun, keberadaan satu toko belum menjelaskan keamanan keluarga elf lain atau seberapa jauh bahasa dan adat mereka masih diwariskan.

Elihal berdiri di dalam tokonya, dengan pakaian, gulungan kain, dan meja kerja di sekelilingnya.
Elihal dan perlengkapan tokonya di Novigrad dalam The Witcher 3. Keterampilan menjahit menjadi penghidupan seorang elf di tengah masyarakat kota.

Kelompok pertunjukan dalam Payback memperlihatkan hubungan sosial yang lebih luas. Valdo dan kawan-kawannya pernah menerima Ciri ketika ia tidak memiliki tempat tinggal dan uang. Di lingkungan itu, kebersamaan juga hadir melalui percakapan serta perayaan. Ciri diterima sebagai orang yang membutuhkan pertolongan, sehingga hubungan mereka melampaui permusuhan antarras.

Kehangatan tersebut berdampingan dengan tekanan dari luar. Menurut Aegar, seorang pedagang menolak menjual kuda karena identitasnya. Ia lalu mengusulkan pencurian, tindakan yang membuka perselisihan dengan Geralt. Motif pedagang diketahui melalui penuturan Aegar, sedangkan bantuan yang kelompoknya berikan kepada Ciri sudah menjadi bagian dari hubungan mereka.

Contoh ini memperlihatkan kehidupan elf yang memiliki pekerjaan, pertemanan, dan keputusan yang tidak selalu disepakati orang lain. Persekusi terhadap nonhuman dapat mempersempit ruang hidup itu, tetapi tidak menjelaskan seluruh isinya. Hidup di antara manusia dapat membuka hubungan yang berguna tanpa menghapus tekanan yang berasal dari sebagian manusia lainnya.

Asimilasi karena itu perlu dibedakan dari kehadiran elf di kota. Tinggal, bekerja, dan berteman dengan manusia menunjukkan hubungan yang berlangsung. Hilangnya kebudayaan membutuhkan penjelasan lebih jauh. Tidak setiap penyesuaian merupakan penghapusan identitas, sebagaimana tidak setiap keberhasilan individual menjamin semua yang ingin dipertahankan dapat diteruskan.

Generasi yang Tidak Mudah Digantikan

Novel Blood of Elves memperlihatkan persoalan generasi melalui Shaerrawedd. Menurut penjelasan Geralt kepada Ciri, kaum tua memilih menghancurkan kota dan mundur, berharap usia panjang memungkinkan mereka menunggu sampai ekspansi manusia berlalu. Aelirenn justru memimpin kaum muda dalam perlawanan yang berakhir dengan pembantaian. Geralt menjelaskan bahwa hanya elf muda yang dapat memiliki keturunan. Kehilangan mereka membawa akibat yang lebih besar daripada berkurangnya jumlah pejuang.

Perbedaan keputusan itu memperlihatkan dua cara menilai waktu. Kaum tua berharap dapat menunggu, sementara kaum muda mengambil risiko melawan. Keduanya menghadapi persoalan kelanjutan masyarakat, meskipun dengan pilihan yang bertentangan. Dalam cerita Geralt, umur panjang menjadi dasar harapan sekaligus tidak mampu menggantikan generasi yang hilang.

Penjelasan di Shaerrawedd berasal dari novel. Ia membantu memahami ancaman terhadap generasi Aen Seidhe, tanpa menetapkan jumlah penduduk atau kepastian kepunahan mereka pada masa The Witcher 3.

Hal ini juga mengubah ukuran keberhasilan perlawanan. Pertempuran dapat diperlukan untuk melindungi orang atau mempertahankan tempat hidup. Namun, mempertahankan masyarakat menuntut perhatian kepada kehidupan setelah pertempuran, termasuk orang yang selamat dan dapat membangun hubungan baru. Kehormatan dalam cerita tentang perang belum menjawab kebutuhan tersebut.

Pewarisan budaya tidak dapat dipersempit menjadi kelahiran saja. Orang yang sudah dewasa masih dapat mengajarkan bahasa, menceritakan masa lalu, dan meneruskan keterampilan. Sebaliknya, keberadaan generasi baru tidak dengan sendirinya memastikan semua praktik lama akan diterima dalam bentuk yang sama. Kelanjutan masyarakat memerlukan orang dan hubungan yang memungkinkan pengetahuan berpindah di antara mereka.

Novel juga memperlihatkan keturunan campuran manusia dan elf. Pembuka Blood of Elves menggambarkan anak-anak dari berbagai ras dan keturunan, termasuk half-elf dan quarter-elf, yang bermain bersama seusai pertunjukan Dandelion. Garis keturunan elf dapat berlanjut dalam keluarga campuran, sedangkan bahasa, adat, dan ingatan tetap membutuhkan hubungan sosial agar dapat dipelajari. Memiliki leluhur elf belum menjelaskan cara seseorang dibesarkan atau komunitas yang menjadi tempatnya tumbuh. Karena itu, kesinambungan keturunan dan pewarisan masyarakat tidak selalu mempunyai ukuran yang sama.

Buku The Aen Seidhe and the Aen Elle dalam The Witcher 3 menawarkan gambaran yang jauh lebih fatalistis. Penulisnya menganggap elf yang hidup bersama manusia telah banyak melupakan kebudayaan dan menempatkan kepunahan mereka sebagai akibat biologi. Itu penilaian buku dalam dunia game, yang mengubah tekanan terhadap masyarakat menjadi vonis atas masa depannya. Pekerjaan Elihal dan kehidupan kelompok pertunjukan juga tidak menyediakan jawaban tentang tingkat kelahiran. Kehidupan yang masih berlangsung perlu diakui tanpa dipaksa menjadi jaminan keselamatan atau kepunahan.

Dol Blathanna dan Janji Sebuah Tanah Air

Pada fase pembentukannya dalam novel, kerajaan Dol Blathanna di bawah Francesca Findabair merupakan pemulihan politik yang dapat dikenali. Ada tempat yang kembali diperintah seorang elf, sehingga tanah air memperoleh bentuk pemerintahan dan wilayah. Pencapaian ini memberi alasan kuat untuk menolak gambaran sejarah Aen Seidhe sebagai kehilangan yang selalu berjalan ke satu arah.

Hubungan dengan Nilfgaard membawa batas pada pencapaian itu. Dalam The Time of Contempt, Francesca mengatakan kepada Filavandrel bahwa komando Scoia’tael harus terus bertempur untuk mengganggu kerajaan manusia atas perintah Emhyr. Ia menyatakan tidak dapat menentang perintah tersebut. Kehidupan di kerajaan yang telah diperoleh dan nasib orang yang terus bertempur mengikuti kepentingan yang berbeda.

Perundingan yang menyertai Peace of Cintra dalam The Lady of the Lake kemudian mengubah kerangka politiknya. Demavend bersedia mengakui otonomi Dol Blathanna sebagai kadipaten, bukan kerajaan. Francesca menerima perubahan gelar dari ratu menjadi duchess, pemulangan para pemukim beserta pemulihan harta mereka, dan kesetaraan hak antarras. Namun, ia mengajukan status freehold yang hanya terikat sumpah kesetiaan dan janji tidak bertindak melawan penguasa Aedirn, tanpa ikatan vasal ataupun kewajiban upeti. Pembayaran kepada Aedirn masih dapat dinegosiasikan. Otonomi itu tetap harus dirundingkan dengan kerajaan manusia yang mengelilinginya.

Dalam jalur Iorveth di The Witcher 2, gambaran politik Dol Blathanna bergeser lagi. Ia masih menyebutnya kerajaan dan menilainya sebagai negara vasal kaisar Nilfgaard. Scoia’tael, keluhnya, tidak diterima di sana. Menurutnya, lebih dari dua ribu elf telah menetap, tetapi hanya sekitar selusin anak lahir selama lima tahun sejak kerajaan itu dibentuk. Kesaksian dalam kontinuitas game ini tidak sepenuhnya sama dengan pembicaraan otonomi terhadap Aedirn dalam novel, dan tidak otomatis mengoreksi versi novel.

Keberatan Iorveth terutama mempertanyakan siapa yang memperoleh tempat dalam pemulihan itu. Tanah yang kembali diperintah elf belum tentu terbuka bagi orang yang bertempur untuknya. Jika Scoia’tael tidak diterima, memperjuangkan tanah air dan dapat tinggal di dalamnya menjadi dua pengalaman yang berbeda. Keluhan tersebut membatasi janji Dol Blathanna tanpa menghapus nilai wilayah yang telah diperoleh.

Sebutan Iorveth tentang lembah para tetua mandul menunjukkan bagaimana ia menjelaskan sedikitnya kelahiran itu. Namun, penilaiannya tidak memeriksa seluruh faktor yang memengaruhi kelahiran dan bukan sensus independen. Ucapannya menjelaskan penolakan politiknya terhadap Dol Blathanna, tanpa menjadi dasar meramalkan masa depan seluruh populasi elf.

Tanah menyediakan tempat menetap dan landasan untuk mengatur kehidupan bersama. Nilainya bagi Aen Seidhe tetap perlu diakui, termasuk ketika kritik terhadap Dol Blathanna dipertimbangkan. Wilayah yang kembali diperintah elf menjadi bagian dari pemulihan. Orang yang diterima, dilindungi, dan memperoleh kesempatan membangun hidup di dalamnya menentukan sejauh mana pemulihan itu menjangkau masyarakat.

Sebutan vasal Nilfgaard juga muncul dalam buku The Aen Seidhe and the Aen Elle di The Witcher 3. Kesamaan dengan ucapan Iorveth memperlihatkan gambaran yang dipakai teks game, tetapi tidak menghapus perbedaan dengan novel. Baik buku itu maupun percakapan dalam game sebelumnya tidak memberi gambaran lengkap tentang siapa yang tinggal, bagaimana mereka hidup, dan apa yang diwariskan di Dol Blathanna pada masa The Witcher 3.

Perlawanan dan Ruang Hidup Bersama

Penolakan Iorveth terhadap Dol Blathanna tidak membuatnya menolak setiap bentuk kehidupan bersama. Dalam The Witcher 2, ia mendukung proyek Saskia untuk Pontar Valley yang memberi tempat kepada elf, dwarf, dan manusia. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin perlawanan pun dapat mencari masa depan melalui kerja sama lintas ras. Itu kemungkinan politik yang diperjuangkannya, bukan jaminan hasil yang berlaku pada setiap cabang game.

Iorveth berdiri dengan tangan terlipat di sebelah Saskia yang sedang memperkenalkannya kepada dewan perang Vergen.
Saskia memperkenalkan Iorveth dalam The War Council di The Witcher 2. Kehadirannya menunjukkan keterlibatan Scoia’tael dalam aliansi pertahanan Vergen.

Pada masa The Witcher 3, perlawanan bersenjata masih terlihat dalam Contract: Woodland Beast, ketika serangan terhadap gerobak pengangkut barang Redania ternyata dilakukan Scoia’tael. Kasus itu menunjukkan bahwa konflik terus berlangsung. Ia tidak dapat mewakili semua elf, dan keputusan terhadap satu kelompok tidak menyelesaikan persoalan penghidupan serta pewarisan seluruh Aen Seidhe.

Berbagai cara hidup itu tidak membentuk urutan sederhana dari menyerah, bertahan, lalu melawan. Toruviel mempertemukan kebutuhan pangan dan tindakan bersenjata, sedangkan Iorveth menggabungkan perlawanan dengan dukungan terhadap wilayah bersama. Elihal menjalani pekerjaannya di kota tanpa menjadikannya pernyataan bahwa semua persoalan elf telah selesai. Pilihan mereka perlu dinilai melalui kehidupan yang dapat dipertahankan serta akibatnya bagi orang lain, bukan ditempatkan dalam satu tangga keberhasilan yang berlaku untuk semua Aen Seidhe.

Kehilangan tanah mempersempit pilihan Aen Seidhe karena kehidupan bersama membutuhkan tempat dan sarana untuk berlangsung. Penyesuaian membuka hubungan baru, tetapi tidak selalu menghilangkan tekanan. Perlawanan dapat mempertahankan tuntutan, sekaligus membawa akibat bagi orang yang harus hidup setelahnya. Dalam berbagai pilihan itu, Aen Seidhe tetap hadir melalui pekerjaan, ingatan, pertolongan, dan keputusan politik. Kelanjutan masyarakat bergantung pada kesempatan orang-orang tersebut membangun kehidupan yang dapat diteruskan.

Petunjuk pemakaman Crevan Carn menyimpan gambaran sebuah keluarga yang menjaga ingatan anggotanya. Di luar dokumen itu, masa depan Aen Seidhe memerlukan orang yang dapat terus membentuk hubungan semacam itu, dengan tempat tinggal dan penghidupan yang memungkinkan mereka melakukannya. Warisan yang masih dikenali memberi bahan untuk diteruskan. Kesempatan hidup bersama menentukan apakah pewarisan itu dapat berlangsung.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama